Fakta Kekalahan Italia dari Spanyol, Mancini Kecam Milanisti, Chiesa: Kartu Merah yang Kejam

Pelatih Timnas Italia, Roberto Mancini mengecam aksi pendukung AC Milan atas tindakan mereka terhadap kiper Gianluigi Donnarumma saat Italia kalah 1 2 dari Spanyol pada semifinal Nations League di San Siro, Milan, Kamis (7/10/2021) dini hari. Sang kiper yang pernah menjadi bagian vital Rossoneri, mendapat cemooh dan sorakan dari pendukung mereka sendiri pada pertandingan itu. Ini adalah pertandingan pertama Donnarumma di San Siro sejak ia memutuskan pergi dari AC Milan sebagai free agent untuk bergabung dengan Paris Saint Germain.

Keputusannya itu memicu kemarahan Milanisti yang kebetulan bermaskas di San Siro, tempat dilaksanakannya partai semifinal Nations League, Italia Vs Spanyol. Gianluigi Donnarumma dicemooh sepanjang pemanasan. Ejekan dan hinaan keras juga terdengar di stadion setiap kali dia menyentuh bola, termasuk saat melakukan back pass dan selama Spanyol menyerang.

Aksi suporter ini mendapat kecaman dari Roberto Mancini. Terlebih, menurut sang allenatore, Gigio sapaan Donnarumma tampil cukup baik dalam laga itu “Itu pasti tidak akan menyenangkan buatnya, sama seperti tidak menyenangkan juga bagi kami (sebagai tim). Gigio melakukannya dengan baik,” kata pelatih Azzurri, Roberto Mancini dalam konferensi persnya selapas laga dikutip dari Football Italia . “Jelas, itu mengecewakan, karena ini adalah pertandingan Timnas Italia, itu bukan pertandingan klub. Mereka seharusnya menyampingkan (kekesalan dan kekecewaan) untuk satu pertandingan ini, mungkin (seharusnya disimpan) buat laga PSG Milan, karena Italia seharusnya berada di atas segalanya,” kata Mancini melontarkan kecamannya atas aksi Milanisti tersebut.

Kekalahan Italia dari Spanyol ini mengakhiri rekor 37 pertandingan tak terkalahkan beruntun Timnas Italia. Pun, itu tetap menjadi rekor dunia pada level internasional. Spanyol unggul lewat Ferran Torres yang mengantongi dua gol. Kartu merah yang diterima Leonardo Bonucci sebelum turun minum juga menjadi sorotan.

Italia akan melawan Prancis atau Belgia di Turin pada Ahad ini untuk menentukan tempat ketiga di Nations League Cup kali ini. Penyerang Timnas Italia, Federico Chiesa mengakui Spanyol 'layak menang' di semifinal Nations League, tetapi dia menyoroti mengeluh kartu kuning pertama yang diterima Leonardo Bonucci. Azzurri bermain dengan 10 pemain sejak menit ke 43 setelah Leonardo Bonucci menerima dua kartu kuning.

Situasi yang dimanfaatkan Ferran Torres untuk melengkapi dua golnya menjelang turun minum. Chiesa melakukan serangan balik cepat untuk menciptakan gol bagi Lorenzo Pellegrini, tetapi Italia tetap gagal comeback . “Kami kalah setelah banyak pertandingan, kami mencetak rekor dunia, pada akhirnya kekalahan itu harus terjadi. Seperti yang dikatakan semua orang selama beberapa hari terakhir, itu harus terjadi pada akhirnya,” kata Chiesa kepada RAI Sport .

Italia tidak terkalahkan dalam tiga tahun, sejak Oktober 2018, dengan 28 kemenangan dan sembilan seri. “Selamat kepada Spanyol atas penampilan yang sangat bagus. Kami terkadang bisa lebih klinis, tetapi Spanyol pantas mendapatkan kemenangan mereka,"kata Chiesa. “Kami selalu memiliki antusiasme, determinasi, dan berlari hingga akhir untuk Italia dan pelatih kami. Ini kekalahan pertama, tetapi ini tidak akan menghentikan momentum kami dan kami menantikan pertandingan berikutnya.

“Jelas, sulit bermain dengan 10 pemain dan Spanyol sudah bermain bagus ketika kami memiliki 11. Meskipun demikian, kami memiliki dua peluang yang sangat besar di babak pertama dan kemudian kebobolan gol yang dapat dihindari pada babak pertama yang memungkinkan Spanyol untuk memulai babak kedua dengan sangat nyaman,” kata Chiesa. Sang pemain juga menyoroti kartu merah yang diterima Bonucci. Diketahui, Bonucci menerima kartu kuning pertama karena berdebat dengan wasit, meskipun ia tampaknya tidak terlalu agresif dalam protesnya.

Adapun kartu kuning kedua dia terima karena melompat dengan siku terangkat ke arah Sergio Busquets. Bagi Chiesa, kartu kuning pertama yang diterima Bonucci adalah hal yang tak berguna. Dia menilai wajar jika Bonucci yang bertindak sebagai kapten tim, menanyakan dasar keputusan wasit terhadap timnya. “Saya pikir kartu merah itu sangat kejam, karena saya belum pernah melihat di level internasional kartu kuning yang tidak berguna untuk perbedaan pendapat,” lanjut Chiesa.

“Dia kaptennya, itu kesalahan wasit karena pemain Spanyol itu tergelincir begitu saja, jadi kapten berhak meminta informasi lebih lanjut,". “Saya belum pernah melihat dua kartu kuning yang begitu 'lembut' di level ini,” sindir Federico Chiesa atas keputusan wasit tersebut. Adapun kekalahan Italia dari Spanyol itu melahirkan sejumlah fakta lainnya, dirangkum dari kompas.com. berikut beberada di antaranya:

Kekalahan dari Spanyol membuat timnas Italia gagal memperpanjang rekor tak terkalahkan. Sebelumnya, mereka tak terkalahkan dalam 37 laga beruntun dengan rincian 28 kemenangan dan sembilan kali imbang. Artinya, ini merupakan kekalahan pertama yang diderita timnas Italia dalam 38 laga terakhir di pentas Internasional.

Hasil laga kontra Spanyol juga juga menjadi kekalahan kandang pertama yang diderita Italia dalam laga kompetitif. Sebelum ini, Italia kali terakhir menelan kekalahan di laga kandang saat takluk 2 3 dari Denmark pada September 1999. Sebelum bersua Spanyol pada semifinal UEFA Nations League, Italia tidak pernah kebobolan lebih dari satu gol dalam 40 laga terakhir di pentas Internasional.

Namun, rekor itu putus di hadapan Spanyol. Mereka untuk kali pertama kebobolan dua gol dalam satu pertandingan. Pahlawan kemenangan Spanyol, Ferran Torres, mengukir rekor apik setelah mampu mencetak dua gol ke gawang Italia.

Dia tercatat telah membukukan 11 gol dalam 20 penampilan internasional bersama timnas Spanyol, terhitung sejak 1 September 2020. Jumlah gol Ferran Torres pada periode itu lebih banyak dua kali lipat daripada pemain Spanyol lainnya (Alvaro Motara, 5 gol). Gavi (17 tahun dan 62 hari) menjadi pemain termuda yang pernah mewakili timnas senior Spanyol setelah masuk dalam line up kontra Italia.

Gelandang Barcelona itu memecahkan rekor yang sebelumnya diukir oleh Angel Zubieta (17 tahun dan 284 hari) pada 1936, 85 tahun silam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.